
“* Turki Usmani juga mendirikan akademi militer di Kerajaan Aceh Darussalam yang telah mencetak pemimpin perang tangguh, Salah satunya Laksamana Keumalahayati.*
Aceh Darussalam bukan negara sembarangan serta kerajaan
Islam terbesar yang mempunyai sekutu dan sangat disegani di tanah Eropa.
Kerajaan Aceh Darussalam menjalin hubungan dengan Turki semenjak Turki Usmani berada di bawah kekuasaan Sultan Selim I, kemudian berganti Sultan Sulaiman I, sampai masa Sultan Selim II, bahkan berlanjut lagi pada abad ke-19 ketika kekuasaan di tangan Sultan Abdulmejid II. .
Kerajaan Aceh Darussalam menjalin hubungan dengan Turki semenjak Turki Usmani berada di bawah kekuasaan Sultan Selim I, kemudian berganti Sultan Sulaiman I, sampai masa Sultan Selim II, bahkan berlanjut lagi pada abad ke-19 ketika kekuasaan di tangan Sultan Abdulmejid II. .
Sumber Turki, Ismail Hakki Goksoy, menyebutkan, Sultan
Ala’uddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar mengirim surat kepada Sultan Sulaiman melalui
duta besar Hussein bertanggal 7 Januari 1566 dengan tujuan meminta bantuan
militer untuk memerangi pasukan Portugis.
Namun, bantuan berupa ahli perang, kapal, meriam, tentara
bersenjata lengkap tidak dapat segera dikirimkan dikarenakan beberapa peristiwa
yang terjadi di Istanbul pada saat itu, termasuk juga peristiwa pengangkatan
Sultan Selim II menggantikan Sultan Sulaiman yang mangkat.
Istanbul Turki saat itu pernah dikenali sebagai “Islambul”
yang bermaksud Kota Islam yang dibelah dua oleh Selat Bosphorus, memisahkan
benua Asia dari Eropah. Menara masjid yang kelihatan di mana saja di kota itu
menggambarkan pengaruh Islam yang kuat sepanjang 471 tahun era Uthmaniyah di
Istanbul.
Sejak 1453 hingga 1924 iaitu dari detik Muhammad Al-Fateh
membuka kota Constantinople hingga ke saat Mustafa Kamal Atarturk
mengisytiharkan berakhirnya institusi Khalifah Uthmaniyah di Turki, 1001
peristiwa tercatat di lembaran sejarah Islam.
Keagungan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, pemimpin empire
Uthmaniyah yang mewariskan kemegahan Islam melalui perluasan jajahan takluk dan
penyebaran agama Islam, masih disebut hingga hari ini. Mungkin kejayaan itulah
yang menjadi inspirasi kepada Sultan Aceh Darussalam, Sultan Alauddin Riayat
Syah Al-Qahhar, hingga merangsang beliau menghantar wakil diplomatik ke
Istanbul.
Saat itu, Ancaman Portugis di Nusantara para rombongan Aceh
Darussalam turut menceritakan hal itu kepada Sultan, maka baginda mengerahkan
armadanya bersama meriam Turki, Ahli pembuat meriam dan senjata api pulang
bersama rombongan Aceh Darussalam.
Pelabuhan Melaka bersejarah adalah kota rebutan di Selat
Melaka yang menyaksikan kehadiran tiga kuasa Eropah sejak 1511 berpunca pada
perdagangan rempah yang dikuasai pedagang Islam yang berulang alik antara dunia
timur dan barat.
Selama keberadaannya di Aceh Darussalam, utusan yang dikirim
dari Kerajaan Turki telah banyak memberikan kontribusi dan pengaruh besar
terhadap Kerajaan Aceh Darussalam. Di samping hubungan dagang antara dua
kerajaan tersebut, Turki Usmani juga mendirikan akademi militer di Kerajaan
Aceh Darussalam yang telah mencetak pemimpin perang tangguh. Salah satunya
Laksamana Keumalahayati.
Keumalahayati adalah seorang perempuan Aceh Darussalam yang
pernah memimpin berpuluh kapal perang, yang di setiap kapal tersebut terdapat
ratusan tentara. Di samping itu, Goksoy juga menyebutkan dalam tulisannya
tentang bendera Kerajaan Aceh Darussalam yang berlatar merah bersimbolkan bulan
sabit dan bintang putih dengan pedang di bawahnya.
Ini semua pengaruh dari Kerajaan Turki Usmani. Hubungan
antara dua kerajaan berlanjut lagi pada pertengahan abad ke-19 ketika Belanda
menjajah Aceh Darussalam. Sultan Aceh Darussalam meminta bantuan kembali kepada
Turki Usmani agar mengirimkan pasukan dan juga meminta kerajaan Aceh Darussalam
agar ditegaskan sebagai bagian dari Turki Usmani. Tujuannya agar Belanda tidak
dapat menguasai tanah Aceh Darussalam.
Namun, pada abad ini Turki Usmani telah mengalami kemunduran
pesat karena kekuatan Eropa yang semakin kuat dan semakin berkuasa di tanah
Turki. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan, walaupun Turki Usmani
mengirimkan sejumlah utusannya ke Aceh Darussalam.
Sekalipun tidak berhasil mengusir penjajah dari Melaka,
kesultanan Aceh Darussalam memberi isyarat jelas kepada Portugis bahwa Aceh
Darussalam bukan negara sembarangan, dan kerajaan Islam terbesar di nusantara
itu turut mempunyai sekutu dan sangat disegani di tanah Eropa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar